Monday, 22 September 2014

Fadillah Bersegera Menuju Shalat Berjamaah di Masjid



Shalat lima waktu adalah kewajiban atas setiap muslim dan sangat dianjurkan untuk dilakukan dengan berjamaah di masjid (khususnya laki-laki). Beberapa hadist mengenai anjuran ini antara lain:

Hadits 1

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.' Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, 'Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?', ia menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, 'Maka hendaklah kau penuhi (panggilan itu)’. (HR. Muslim)

Hadits 2
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa mendengar panggilan adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, terkecuali karena udzur (yang dibenarkan dalam agama)'. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, hadits shahih)

Dari dua hadist diatas, sangat jelas bagaimana pentingnya untuk melakukan shalat berjamaah di masjid.


Berikut ini beberapa keutamaan bersegera menuju masjid
  • Seorang yang duduk di masjid menunggu diselenggarakannya shalat berjamaah senantiasa berada di dalam shalat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:”Seorang dari kalian senantiasa berada dalam shalat selama shalat yang mencegahnya untuk pergi, tidak ada yang  menghalanginya untuk pulang kecuali shalat tersebut”. (HR. Bukhari-Muslim)
  • Bersegera menuju masjid merupakan indikasi terpautnya hati dengan masjid yang merupakan baitullah. Dalam hadits yang menerangkan tujuh golongan yang mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala pada hari Kiamat kelak, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut salah satunya: “Laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, bila dia keluar darinya hingga dia kembali”. (Muttafaq alaihi dengan redaksi Muslim)
  • Allah Subhanahu wata’ala menjamin orang-orang yang akrab dengan masjid dengan rahmat, ridha, dan keselamatan melewati Shirath pada hari Kiamat. Rasulullahshallallahu alaihi wasallam bersabda: “Masjid itu adalah rumah bagi setiap manusia bertaqwa. Allah menjamin manusia yang menjadikan masjid sebagai rumahnya dengan ketenangan dan rahmat, serta keselamatan melewati Shitarh, dengan ridha Allah, menuju Syurga”. (HR. Thabrani & Badzzar; Haytsami berkata: isnadnya hasan).
  • Dengan bersegera menuju masjid, kita dapat menuju shalat dengan lebih tenang. Dengan begitu kita melaksanakan anjuran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang bersabda: “Jika kalian menuju masjid, hendaknya kalian (berjalan) dengan tenang”. (HR. Bukhari-Muslim).
  • Dengan bersegera menuju masjid, kita berpeluang mendapatkan shaf pertama dalam shalat jamaah dengan segala keutamaan yang dimilikinya. Tentang keutamaan shaf pertama dalam shalat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:”“Seandainya manusia tahu (keutamaan) apa yang terdapat dalam menjawab azan dan shaf pertama, kemudian tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi maka niscaya mereka akan melakukan undian”. (HR. Bukhari)
  • Orang yang bersegera menuju masjid berpeluang besar bisa melakukan shalat pada shaf jamaah bagian kanan. Sebab, umumnya pada awal waktu shaf-shaf jamaah masih sangat lowong. Patut diingat bahwa shalat pada shaf jamaah bagian kanan punya keutamaan tersendiri, sebagaimana disinggung dalam hadits: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (manusia yang shalat pada) shaf bagian kanan”. (HR. Abu Dawud; dinilai hasan oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bariy)
  • Orang yang bersegera menuju masjid otomatis bisa mendapatkan Takbiratul ihram (takbir pertama shalat) bersama imam. Melaksanakan Takbiratuh ihrambersama imam punya fadhilah tersendiri, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Barang siapa yang shalat karena Allah 40 hari berjamaah dengan mendapatkan takbir  yang pertama (Takbiratul ihram), dia tercatat bebas dari dua perkara: api Neraka dan sifat kemunafikan”. (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh al-Albani)
Tiga nikmat terbesar yakni Iman, Kesehatan, dan Kesempatan.
Betapa banyak orang yang memiliki kesehatan dan kesempatan, tetapi karena kurangnya iman sehingga melewatkan panggilan shalat berjamaah. Dan betapa banyaknya orang beriman yang ingin melakukan shalat berjamaah, tetapi justru dihimpit kesakitan sehingga tidak bisa bergabung dalam shalat berjamaah di masjid.

(markazinayah.com/wahdahmakassar.org)